Penyelesaian Perkara Melalui Semangat Kekeluargaan Sesuai Konsep Ultimum Remidium

 0
Penyelesaian Perkara Melalui Semangat Kekeluargaan Sesuai Konsep Ultimum Remidiumby adminHT01on.Penyelesaian Perkara Melalui Semangat Kekeluargaan Sesuai Konsep Ultimum RemidiumPolres Trenggalek – Dalam ilmu Hukum Pidana tentunya dikenal istilah konsep Ultimum Remidium yang artinya adalah hukum merupakan senjata terakhir atau jangan sekali kali mengunakan hukum jika masih ditemukan alternatif solusi lain. Hal inilah tampaknya yang melatari Aiptu Nurkosim, S.H. selaku Kanit Reskrim Polsek Dongko, Polres Trenggalek dalam menyelesaikan perkara antara Suyatno (55 th) dengan […]

Polres Trenggalek – Dalam ilmu Hukum Pidana tentunya dikenal istilah konsep Ultimum Remidium yang artinya adalah hukum merupakan senjata terakhir atau jangan sekali kali mengunakan hukum jika masih ditemukan alternatif solusi lain.

Hal inilah tampaknya yang melatari Aiptu Nurkosim, S.H. selaku Kanit Reskrim Polsek Dongko, Polres Trenggalek dalam menyelesaikan perkara antara Suyatno (55 th) dengan Sukijah Binti Munarji (57 th) keduanya adalah warga RT. 11/02 Dusun Krajan, Desa Ngerdani, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, selasa(30/05/2017).

“Permasalahan bermula ketika Suyatno melakukan perusakan tanaman Pohon Cengkeh dan tanaman Nilam yang dikelola oleh Sukijah ditanah tegakan milik Perum Perhutani. Tak berhenti sampai di situ, Suyatno melakukan ancaman penganiayaan sehingga menimbulkan ketakutan kepada Sukijah yang selanjutnya melaporkan kejadian tersebut ke kantor Kepolisian Sektor Dongko”. Jelas Nurkosim.

Dalam proses perkara atau penyelesaian perkara dua orang warga desa yang dulunya merupakan pasangan suami istri tersebut dihadiri Punjung Budi Santoso selaku Kepala Desa Ngerdani, Bhabinkamtibmas, serta beberapa Tokoh Masyarakat setempat.

“Kami mohon kepada pihak kepolisian untuk tidak melanjutkan perkara ini ke ranah hukum karena perkara ini termasuk perkara kecil yang seharusnya bisa dilakukan penyelesaian dengan semangat kekeluargaan melalui pembinaan, penyelesaian perkara diluar pengadilan”. Pinta Kades.

Setelah berhasil melalui upaya mediasi dengan Pelapor selanjutnya disepakati penyelesaian perkara ditempuh melalui semangat kekeluargaan sesuai konsep Ultimum Remidium dengan ketentuan sebagai berikut, Suyatno meminta maaf atas perbuatan yang telah dilakukan kepada mantan istrinya dan sanggup tidak mengulangi perbuatannya, Suyatno sanggup menjaga kerukunan hidup antar lingkungan bertetangga secara lahir bathin.

Aiptu Nurkosim menjelaskan untuk memberikan efek jera maka terlapor bersedia melaksanakan wajib lapor tiap hari Senin dan Kamis di Mapolsek Dongko guna menjalani berbagai rangkaian pembinaan sampai pada estimasi waktu yang ditentukan melalui indikator perilakunya di lingkungan bermasyarakat.

“Penyelesaian perkara dapat dikatakan selesai dengan tuntas apabila sudah terbit Surat Pernyataan Bersama yang ditanda tangani kedua belak pihak serta legalisasi Kepala Desa”. Tutup Nurkosim.

(gusmul/tftt)


Sumber : Polres Trenggalek